CEMAS, Oleh dr. Pt. Risdianto Eka Putra, Sp. KJ

CEMAS

GANGGUAN KECEMASAN

CEMAS, dr. Risdianto Eka Putra, Sp. KJ, Rumah Sakit Ari Canti - Rumah Sakit di Gianyar, Rumah Sakit di BaliSetiap orang pasti pernah mengalami rasa cemas, orang dewasa bahkan anak-anak pun bisa mengalaminya. Cemas adalah salah satu bentuk emosi yang umum pada manusia, sebagai reaksi normal terhadap stres. Ada dua jenis stres yaitu eustress dan distress. Eustress adalah stres dalam jangka pendek yang bermanfaat dan bersifat konstruktif. Distress adalah stres yang berlangsung terus menerus dan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan dan kehidupan pada umumnya.

Saat merasa cemas biasanya orang akan mengalami emosi (perasaan) tidak senang disertai pikiran subyektif tentang hari depan (belum terjadi) yang tidak pasti atau mengancam. Perasaan seperti itu sering diungkapkan dengan kata “waswas” atau “khawatir” atau “takut”.

Semua tahu bahwa ketika orang masih hidup, pikiran dan tubuh tidaklah terpisah. Setiap proses yang terjadi di dalam pikiran akan diikuti oleh reaksi pada tubuh, begitu pula sebaliknya (Mind and Body Unity). Saat terjadi stres dan kecemasan dalam pikiran seseorang, maka akan diikuti oleh berbagai perubahan fisiologis dalam tubuhnya. Reaksi fisiologis ini menandakan aktifnya reaksi “fight or flight” yang dianugrahkan oleh Tuhan kepada kita untuk mempertahankan hidup. Reaksi tersebut melibatkan berbagai sistem tubuh antara lain sistem muskuloskeletal (otot-otot menegang), sistem saraf otonom (jantung berdebar, tekanan darah naik, dan nafas cepat), dan sistem psikoneuroendokrin melalui hypothalamic-pituitary-adrenal/HPA aksis (gula darah meningkat dan lainnya).

Reaksi emosi dan perubahan fisiologis tersebut adalah normal dalam situasi tekanan yang nyata, mengancam atau kondisi bahaya. Reaksi ini merupakan peringatan (sistem alarm) dari saraf pusat (otak) untuk melindungi diri dari ancaman. Akan tetapi bila kecemasan telah menjadi berlebihan, rasa ketakutan yang hebat, tidak rasional, dan mengganggu kehidupan sehari-hari maka orang tersebut telah menderita gangguan kecemasan.

Gejala Umum Gangguan Cemas

  • Pikiran waswas atau khawatir yang sulit dikendalikan
  • Perasaan ketakutan hingga rasa panik yang tidak rasional
  • Gelisah, tidak dapat tenang, tidak bisa diam
  • Masalah dalam tidur
  • Sering sakit kepala/pusing
  • Otot-otot tegang/pegal
  • Denyut jantung terasa lebih cepat/lebih keras
  • Nafas cepat atau terasa sesak
  • Mulut cepat kering
  • Sering mual atau perih uluhati
  • Berkeringat dingin di tangan dan kaki
  • Kesemutan di tangan atau kaki

Penyebab Gangguan Cemas

Pada umumnya, suatu gangguan kesehatan jiwa berhubungan dengan berbagai faktor (multi faktor). Demikian pula halnya kelompok gangguan kecemasan yang terjadi karena kombinasi beberapa faktor antara lain faktor predisposisi (genetik, peristiwa trauma pada masa kanak, ciri kepribadian, keyakinan dan penilaian terhadap ancaman, kemampuan coping); faktor presipitasi (misalnya peristiwa kehidupan tertentu), dan faktor pemelihara (misalnya perilaku menghindar).

Telah diketahui bahwa pada gangguan kecemasan terjadi keadaan abnormal pada fungsi area-area otak serta keseimbangan berbagai zat di dalamnya. Sifat dan fungsi koneksi organ amygdala dengan area-area penting di otak menjadi abnormal sehingga terjadi gejala ketakutan. Sirkuit cortico-striato-thalamo-cortical (CSTC) di otak juga berfungsi secara abnormal sehingga terjadi gejala khawatir berlebihan. Beberapa neurotransmiter yang mengalami ketidakseimbangan antara lain g-aminobutyric acid (GABA), serotonin (5HT), norepinephrine (NE), dopamine, serta voltage-gated calcium channels.

Diagnosis Gangguan Cemas

Untuk menentukan diagnosis gangguan kesehatan jiwa, dokter akan melakukan pemeriksaan dengan metoda wawancara terstruktur, serta tes psikometrik (alat ukur psikologis) penunjang. Beberapa diagnosis gangguan cemas yang sering ditemukan antara lain:

Gangguan fobia (agorafobia, fobia sosial, fobia spesifik).

Kecemasan pada situasi tertentu, secara berlebihan dan tidak wajar, disertai perilaku menghindari. Contoh situasi yang sering menjadi obyek rasa takut pada penderitanya antara lain: takut berada di tempat terbuka/tertutup, tempat umum, tempat ramai, transportasi umum, atau tempat-tempat yang dipikir akan sulit melarikan diri atau sulit minta bantuan. Takut makan di restoran, takut berbicara di depan umum, atau situasi yang memungkinkan dirinya diamati oleh orang lain, mungkin dirinya akan bertindak memalukan. Fobia juga biasa terjadi pada obyek spesifik misalnya binatang tertentu, darah, dan lainnya.

Gangguan panik

Serangan rasa takut yang hebat, bisa menyerang tiba-tiba, tidak dicetuskan oleh situasi, dan menunjukkan gejala-gejala fisik yang sering disalahartikan sebagai serangan jantung dengan adanya rasa nyeri dada, detak jantung tidak teratur (palpitasi), napas memburu, pusing, hingga lemas seperti akan pingsan.

Generalized anxiety disorder (GAD)

Gangguan kecemasan yang menetap dengan rasa khawatir serta tegang yang berlebihan pada berbagai hal, tidak terbatas pada keadaan lingkungan tertentu. Gejala yang tampak bisa meliputi gejala pada pikiran, gejala otonomik, serta pada emosi dan perilakunya. Diganggu oleh firasat-firasat buruk, susah konsentrasi, sulit tidur, mimpi buruk, mudah marah, sering sakit kepala, tidak nyaman di uluhati, pegal otot, gemetaran, tangan dingin atau berkeringat, dan lain-lain.

Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)

Munculnya pikiran yang membuat seseorang jadi sangat terobsesi akan suatu hal dan akan melakukannya berulang-ulang kali (kompulsif). Pikiran itu muncul tidak diinginkan, tapi bila tidak dilakukan akan membuatnya merasa sangat cemas tak terkendali. Misalnya mengecek apakah pintu rumah sudah terkunci. Saat meninggalkan rumah pintu sudah dikunci tetapi bagi penderita OCD akan terus dihantui bahwa pintu belum terkunci dan akibatnya kembali lagi ke rumah untuk mengecek pintu lagi.

Post-traumatic stress disorder (PTSD)

PTSD atau gangguan stres pasca trauma biasanya terjadi setelah mengalami kejadian yang mengerikan, mengancam nyawa, membahayakan keselamatan, dan kejadian ekstrem lainnya. Orang dengan PTSD akan flashback soal kejadian yang membuatnya trauma, terutama saat ada pemicu yang mirip dengan kejadian traumatis yang dialaminya.

Misalnya seorang korban gempa bumi yang selamat dari runtuhnya rumah lantai 3 yang selalu teringat kejadian tersebut bila melihat bangunan berlantai 3, mengalami kecemasan dan ketakutan yang luar biasa ketika terpaksa harus memasuki bangunan tersebut dan dengan segala cara berusaha menghindar untuk menaiki lantai bangunan meskipun bangunan tersebut berada bukan di daerah rawan gempa.

Skala GAD7

Skala GAD7 di atas adalah salah satu alat ukur kecemasan, sering digunakan dalam penelitian. Jika skor total 5-9 artinya kecemasan taraf ringan; 10-14 artinya kecemasan taraf sedang; 15 atau lebih artinya kecemasan taraf berat. Pada kecemasan taraf sedang dan berat dapat diduga adanya suatu diagnosis gangguan cemas yang perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan lebih lanjut.