ASI di masa Pandemi Covid

Bagaimana Pemberian ASI di masa Pandemi Covid-19

 Bagi Para ibu yang menyusui bayi…?

Pada 1-7 Agustus 2020, adalah pekan menyusui sedunia. WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) dan UNICEF meminta agar semua para ibu dan bayi semestinya tetap menyusui selama masa pandemi Covid-19. Sebab, Proses Inidiasi Menyusui Dini (IMD) serta pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif amat membantu bayi bertahan hidup dan membangun antibody agar terhindar dari berbagai penyakit yang sering terjadi, diantaranya pneumonia dan diare termasuk Covi-19.

Bagaimana hal itu bisa terjadi…?

Komposisi ASI sejak lahir mengandung nutrisi, antibodi dan ikatan kasih sayang dimana nutrisi untuk tumbuh kembang bayi dan antibodi untuk kekebalan bayi sehingga terhindar dari penyakit, proses kelekatan bayi pada ibu memberi rasa nyaman pada bayi dan rasa percaya diri pada ibu untuk menyadarkan peran sebagai ibu.

Bagaimana pada masa kondisi pandemi Covid-19…?

Akses pelayanan esensial seperti konseling menyusui di rumah sakit, klinik kesehatan, dan melalui kunjungan ke rumah terganggu. Bahkan, informasi tidak tepat yang beredar tentang keamanan menyusui menurunkan angka ibu menyusui karena para ibu takut menularkan penyakit kepada bayi mereka.

“Saat ini ketika pelayanan kesehatan masyarakat terhambat , kita sangat perlu memahami manfaat luar biasa dari ASI dan interaksi ibu dan bayinya dalam mencegah penyakit yang sering terjadi di masa kanak-kanak”. Perwakilan WHO untuk Indonesia Dr. Paranietharan. Selama pandemi belum berakhir, ibu yang terkonfirmasi positif mengidap covid-19, UNICEF dan WHO meminta agar tetap mendukung ibu melanjutkan menyusui tanpa memisahkan ibu dari bayinya. Tentunya, ini dilakukan sambil memperhatikan langkah pengendalian penularan yang tepat menjalankan protokol kesehatan dalam hal ini ibu memakai masker dan rajin cuci tangan, hindar kontak dengan orang lain. Hingga saat ini, belum ada data yang cukup menyimpulkan bahwa covid-19 ditularkan secara vertikal dari ibu ke anak melalui menyusui. Di sisi lain, penghentian pemberian ASI dan pemisahan ibu dari bayinya bisa menimbulkan konsekuensi lebih jelek dari pada menghentikan ASI.

 

Rumah Sakit harus melanjutkan dukungan kepada ibu menyusui melalui peningkatan konseling yang berkualitas dan penyediaan informasi yang akurat tetang gizi ibu, bayi, anak, serta memperkuat layanan rumah sakit.

Lebih jauh WHO, UNICEF dan para mitra baru-baru ini menghimbau produsen produk pengganti ASI (Sufor) agar berkomitmen untuk patuh secara penuh kepada Kode Pemasaran Internasional untuk Produk Pengganti ASI dan untuk memastikan semua bayi dan anak di seluruh dunia mendapatkan ASI secara optimal dan mengkonsumsi makanan sehat.

 

Jadwal Praktek Dokter Anak (per 1 November 2020)

Putu Triyasa, SpA

di Rumah Sakit Ari Canti

Senin – Sabtu dari pagi pk. 08.00 – 10.00 Wita sedangkan sore hanya Senin dan Sabtu pk. 16.00 – 18.00 Wita