BATU KANDUNG EMPEDU

BATU KANDUNG EMPEDU

dr. Pande Md. Gunawan Adiputra, SpB. KBD

 Batu kandung empedu atau cholelithiasis merupakan suatu kondisi dimana ditandai dengan gejala sakit perut mendadak akibat terbentuknya batu di dalam kantung empedu atau saluran empedu.

Penyebab

Endapan kolesterol dan bilirubin yang menumpuk di dalam kantung empedu diduga dapat mengakibatkan terbentuknya batu empedu. Endapan ini terjadi karena cairan empedu tidak mampu melarutkan kolesterol dan bilirubin berlebihan yang dihasilkan oleh hati.

Disamping hal diatas ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seseorang terkena batu empedu, seperti

  1. Faktor usia. Penyakit ini umumnya dialami orang yang sudah berusia di atas 40 tahun.
  2. Jenis kelamin, , wanita memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk terkena penyakit batu empedu.
  3. Berat badan, risiko akan meningkat jika mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
  4. Pola makan dan kondisi medis tertentu

Jika batu empedu masuk ke dalam saluran empedu dapat menimbulkan penyumbatan dan infeksi pada saluran empedu (kolangitis) dimana  penyumbatan ini akan membuat bakteri tumbuh dan berkembang. Sehingga terjadi  infeksi di dalam saluran dan bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya.

Gejala

Adapun Gejala utama batu empedu adalah nyeri yang timbul secara mendadak di perut bagian kanan atas atau tengah perut,  dapat disertai dengan gejala  mual, muntah,  nafsu makan menurun, dan diare.

Jenis batu Empedu

Ada 3 jenis Batu Empedu :

  1. Batu Empedu Kolesterol : Batu ini terbentuk dari kolesterol biasanya berwarna kuning atau hijau
  1. Batu Empedu Pigmen/ bilirubin : Batu ini terbentuk dari kalsium bilirubinat yang terlalu banyak dalam empedu biasanya berwana gelap/hitam/coklat
  1. Batu Empedu Campuran : Batu ini merupakan campuran dari baru empedu kolesterol dan batu empedu pigmen/bilirubin

Diagnosis

Diagnosa ditegakkan berdasarkan :

  1. Anamesa dan pemeriksaan fisik
  2. Pemeriksaan Penunjang seperti USG atau Pemeriksaan Ultrasonografi untuk memperkuat diagnosis batu empedu. Bila batu berada disaluran empedu diperlukan pemeriksaan CT Scan. Apabila penderita kelihatan sangat kuning maka diperlukan pemeriksaan MRI

Terapi

  1. Dokter akan memastikan apakah ada kemungkinan komplikasi akan terjadi. Jika ditemukan adanya kemungkinan komplikasi maka diperlukan pengobatan lebih lanjut
  2. Jika nyeri muncul sangat hebat khususnya diarea perut maka diperlukan tindakan medis lebih lanjut dan jika nyeri muncul cukup sering maka diperlukan adanya tindakan operatif berupa pengangkatan batu empedu (kolesistektomi).

Komplikasi

Meskipun jarang terjadi , Batu empedu tentunya bisa menyebabkan komplikasi pada tubuh seperti :

  • inflamasi kantong empedu (kolesistitis) dengan gejala rasa sakit perut yang konstan, demam tinggi, kuning.
  • Pankreatitis akut apabila batu empedu masuk dan menghambat saluran pancreas, akan menyebabkan sakit perut yang akan terus bertambah parah.

Pencegahan

Menjalani pola makan sehat  yaitu makanan tinggi serat seta menghindari makanan yang berlemak, berminyak, berbumbu kacang, batasi konsumsi alkohol.

HNP (Hernia Nukleus Pulposus)

HNP (Hernia Nukleus Pulposus)

“Saraf Kejepit”

dr. Cok Istri Gangga Dewi, M.Biomed, Sp.N

 

HNP/Hernia Nukleus Pulposus atau yang lebih dikenal dengan saraf kejepit merupakan suatu penyakit dimana bantalan ruas tulang belakang bergeser dan menekan saraf tulang belakang sehingga menimbulkan gejala nyeri pada punggung bagian bawah.

PENYEBAB

Penyebab dari HNP adalah  melemahnya jaringan di bantalan tulang belakang. Namun ada beberapa faktor  risiko :

  • Penuaan dimana cairan dalam nukleus Pulposus akan berkurang saat usia bertambah sehingga mengalami penurunan fleksibilitas dan lebih rentan robek
  • Genetik/ ada keluarga dengan riwayat HNP
  • Berat badan berlebihan
  • Posisi dan tumpuan yang salah saat mengangkat beban yang berat
  • Mendorong, memutar, dan membungkuk secara berulang dapat meningkatkan risiko

GEJALA

Gejala tergantung dari lokasi dan banyaknya saraf yang terjepit dimana dapat menyebabkan sakit punggung kiri atau kanan atau keduanya yang menjalar hingga ke paha atau kaki.

Gejala umum HNP sebagai berikut :

  • Nyeri lengan atau kaki
  • Sensasi mati rasa atau rasa geli
  • Kelemahan otot pada saraf yang mengalami iritasi

 

Gejala HNP berdasarkan lokasinya sebagai berikut :

HNP Cervical

Merupakan  HNP yang menjepit saraf di leher. Adapun gejalanya :

  • Nyeri pada leher dan bahu dapat menjalar ke lengan.
  • Merasakan kesemutan dan lemah atau kaku otot di salah satu lengan.
  • Merasakan seperti terbakar pada daerah leher, bahu, dan lengan.

HNP Lumbal

Merupakan HNP yang menjepit saraf pinggang atau punggung bawah. Adapun gejalanya :

  • Sakit pada punggung bagian bawah dan bertambah sakit bila bergerak
  • Nyeri didaerah bokong dan menjalar ke tungkai
  • Merasakan kesemutan atau lemah otot di tungkai.

DIAGNOSIS

Diagnosis HNP dapat ditegakkan dengan :

  • Anamnesa terkait gejala dan aktifitas yang dilakukan sebelum munculnya gejala
  • Pemeriksaan fisik saraf seperti mengukur kekuatan dan refleks otot, serta kemampuan bagian tubuh dalam merasakan rangsangan.
  • Pemeriksaan penunjang seperti :

X-ray, CT Scan, MRI, Myelogram

PENGOBATAN

Pengobatan HNP tergantung pada tingkat keparahan dapat berupa:

  • Pemberian Obat-obatan
  • Terapi Fisik
  • Injeksi didaerah HNP
  • Kadang-kadang diperlukan tindakan pembedahan jika gejala masih ada dengan pengobatan

KOMPLIKASI

Apabila HNP tidak ditangani maka dapat mengakibatkan :

  • Inkontinensia urine merupakan hilangnya kontrol kandung kemih, sehingga bisa mengeluarkan urine tanpa disadari
  • Inkontinensia tinja merupakan kondisi hilangnya kontrol buang air besar yang menyebabkan tinja keluar secara tiba-tiba, tanpa disadari
  • Hilang rasa di area sekitar dubur dan paha bagian dalam.
  • Kerusakan saraf permanen sehingga megakibatkan kelumpuhan

PENCEGAHAN

Pencegahan dapat dilakukan dengan menguragi faktor risiko . Dapat dilakukan dengan cara seperti :

  • Lakukan olahraga secara teratur. Pilih olah raga yang dapat menguatkan otot dan sendi ditungkai dan punggung misalnya  olah raga renang
  • Mengangkat beban dengan posisi yang benar
  • Duduk dengan posisi punggung yang tegak
  • Hindari kegemukan untuk mencegah tekanan berlebihan pada tulang belakang
SUMBING BIBIR

 

SUMBING BIBIR

Dr. dr. Frederik Zefanya Notodihardjo, Sp.BP-RE,Ph.D

 GAMBARAN UMUM

Angka kejadian sumbing bibir dengan / tanpa sumbing langit2 kira-kira 1 dari 750 – 1000. Angka ini 2x lebih banyak pada Asia. Sumbing bibir/langit2 sering pada laki-laki, sedangkan sumbing langit2 sering ditemukan pada wanita.

Penyebab

Etiologi sumbing bersifat multifaktor, yaitu gabungan genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan seperti infeksi virus (misal rubella) dan agen teratogenik (seperti steroid, antikonvulsan) selama trimester pertama kehamilan. Resiko sumbing juga meningkat dengan semakin tuanya usia orangtua, terutama > 30 tahun. Meskipun demikian, kebanyakan sumbing tidak punya penyebab yang jelas.

Klinis

Klinis sumbing bibir sangat bervariasi, mulai dari inkomplet sampai komplet. Sumbing bibir juga dibagi 1 sisi dan 2 sisi, serta complete dan incomplete. Sumbing bibir incomplete ditandai oleh garis sumbing yang tidak mencapai dasar lubang hidung. Sumbing bibir complete melibatkan seluruh ketebalan bibir, meluas menuju dasar hidung.

Sebagai konsekuensi adanya sumbing bibir, terjadi juga kelainan hidung.

Penanganan

Bayi sumbing wajah harus ditangani oleh klinisi dari multidisiplin, agar memungkinkan koordinasi efektif dari berbagai aspek multidisiplin tersebut. Selain masalah rekonstruksi bibir yang sumbing, masih ada masalah lain yang perlu dipertimbangkan yaitu masalah pendengaran, bicara, gigi-geligi dan psikososial. Masalah-masalah ini sama pentingnya dengan rekonstruksi anatomis, dan pada akhirnya hasil fungsional yang baik dari rekonstruksi yang dikerjakan juga dipengaruhi oleh masalah-masalah tersebut. Dengan pendekatan multidisipliner, tatalaksana yang komprehensif dapat diberikan, dan sebaiknya kontinyu sejak bayi lahir sampai remaja. Diperlukan tenaga spesialis bidang kesehatan anak, bedah plastik, THT, gigi ortodonti, serta terapis wicara, psikolog, ahli nutrisi dan audiolog.

Tatalaksana Non-Bedah

Neonatal care

Pertambahan berat badan yang normal, pencegahan aspirasi dan pencegahan infeksi telinga berulang  merupakan bagian yang paling penting dalam merawat bayi dengan sumbing pada hari-hari dan minggu-minggu awal kehidupannya.

Sebagian besar kasus sumbing bibir adalah tidak terkait sindrom genetik, karena itu orangtua sebaiknya ditenangkan dan diberi pengertian dengan hati-hati.

Menyusui bayi sumbing

Kebanyakan bayi sumbing dilahirkan dengan berat badan normal. Namun biasanya ditemukan penambahan berat badan yang kurang. Adanya kelainan pada bibir dan langit2 mengakibatkan bayi sulit menghisap. Oleh karena itu, teknik menyusui sangat penting, dan harus diajarkan pada kunjungan pertama. Ibu dari bayi sumbing masih dapat menyusui bayinya dengan memposisikan bayinya sehingga celah sumbing tertutup oleh payudara ibu. Posisi minum bayi haruslah lebih tegak untuk mencegah kebocoran susu ke arah hidung dan mencegah tersedak. Kemudian anjurkan ibu untuk menghentikan memberi minum dan membiarkan bayi batuk atau bersin dalam beberapa detik.

Tatalaksana Bedah

Pre-operasi

Rule of ten : yaitu operasi sumbing pada anak dengan berat badan 5 kg,  usia 10 minggu dan kadar hemoglobin darah 10 g. Secara umum, operasi sumbing dilakukan usia bayi 2 – 4 bulan. Adhesi surgikal bibir dapat pula digunakan untuk sumbing dengan celah yang lebar. Pada teknik adhesi bibir ini, jaringan lunak bibir atas disatukan, sehingga mereduksi sumbing lebar menjadi lebih sempit jaraknya.

Komplikasi

Revisi bibir biasanya ditangguhkan sampai infeksi teratasi dan jaringan bekas luka matur. Konsultasi dengan spesialis bedah plastik atau sentrum pengembangan sangat dianjurkan.

 Follow up

Setelah repair sumbing, idealnya pasien dievaluasi secara. Higiene oral dan perawatan gigi harus ditingkatkan. Pendengaran dan wicara harus dinilai, dan evaluasi psikososial serta tatalaksananya juga seharusnya dilaksanakan.

Manejemen orthodonti dan prosedur bedah sekunder, seperti grafting tulang tersebut, biasanya dilaksanakan pada usia sekolah. Prosedur sekunder untuk mengkoreksi bentuk hidung saat usia sekolah; namun jika rekonstruksi membutuhkan prosedur osteotomi, sebaiknya tunda operasi sampai pertumbuhan hidung lengkap (kira-kira usia 16 – 17 tahun).

RANGKUMAN

Sumbing bibir juga diklasifikasikan menjadi 1 sisi dan 2 sisi, serta complete dan incomplete. Penatalaksanaan non-bedah meliputi perawatan neonatal dan cara menyusui yang benar pada bayi sumbing. Sedangkan penatalaksanaan bedah ditekankan pada pre operasi yang meliputi waktu operasi dan penilaian lebar celah yang ada, intra operasi yaitu pemilihan tehnik operasi, dan post operasi yang meliputi nutrisi oral, aktivitas, dan perawatan bibir.

KEPUSTAKAAN

  • Hopper, R A et al. Cleft lip and palate. Grabb and Smith’s : Plastic surgery. 6th2007.
  • Noordhoff, M S. Unilateral cheiloplasty. Mathes : Plastic surgery. Vol IV.2006.
  • Salyer, K E., et al. Primary unilateral cleft-lip/nose repair. Atlas of craniofacial and cleft surgery. Vol II. 1999.
  • La Rossa, D. Chen, P K. Unilateral cleft lip repair. Plastic surgery : Indications, operations and outcomes. Vol II. 2000
TRIGGER FINGER

TRIGGER FINGER

dr. Kadek Yoga Premana, Sp.OT

Apa itu Trigger Finger?

Trigger finger merupakan peradangan pada   jaringan pengikat tulang dan otot yang dapat menimbulkan rasa nyeri  pada saat  satu atau beberapa jari ditekuk atau diregang. Pada posisi tertentu jari bisa juga kaku samapai tidak bisa digerakkan. Kondisi ini bisa terjadi pada satu atau beberapa jari tangan. Jari – Jari yang sering sering terkena trigger finger adalah ibu jari, jari manis, dan kelingking

Apa Penyebab Trigger Finger ?

Meski hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab munculnya trigger finger, ada beberapa hal yang diduga dapat memicu terjadinya kondisi tersebut, yaitu:

  • Melakukan aktivitas yang membuat ibu jari atau jari mendapat tekanan kuat.
  • Menggenggam objek dengan sangat kuat dalam waktu lama.
  • Pernah mengalami cedera di bagian telapak tangan atau pangkal jari.
  • Memiliki kondisi medis tertentu, seperti rheumatoid arthritis, diabetes, dan asam urat.

Selain itu, trigger finger juga lebih sering terjadi pada wanita dan orang yang usianya di atas 45 tahun.

 Tanda dan gejala

 Beberapa gejala trigger finger meliputi:

  • Jari terasa kaku
  • Jika disentuh jari tersa nyeri
  • Jika  jari digerakkan akan terdengar suara
  • Muncul benjolan pada pangkal jari
  • Jari tidak bisa diluruskan

Diagnosis

Untuk mendiagnosis trigger finger melalui  pemeriksaan fisik pada tangan dan jari disertai dengan tanda-tanda, seperti benjolan yang meradang atau posisi abnormal.

Pengobatan

Beberapa pilihan terapi untuk  trigger finger untuk mengurangi pembengkakan dan nyeri dan mengembalikan jari ke fungsi semula, meliputi:

  • Istirahat

Mengistirahatkan tangan dan menghindari aktivitas jari –jari tangan

  • Menggunakan Splint/bidai

dapat membantu menjaga jari yang terkena trigger finger berada di posisi lurus dan tidak bergerak.

  • Fisioterapi

dapat membantu mengurangi rasa kaku dan membuat pergerakkan jari tak lagi terbatas.

  • Obat-Obatan

Obat-obatan seperti anti-inflamasi non steroid (OAINS)

  • Injeksi steroid langsung pada tendon

bisa membantu menghilangkan gejala-gejala trigger finger.

  • Tindakan pembedahan

Pada pembedahan untuk trigger finger, akan dilakukan pemotongan tendon yang terkena

Bagaimana cara mencegah trigger finger ?

Dengan cara  menghindari faktor risiko seperti tidak terlalu meregang jari serta mengendalikan / menghindari pemicu penyakit

Bagaimana mengontrol tekanan darah pada lanjut usia dengan riwayat hipertensi

Bagaimana mengontrol tekanan darah pada lanjut usia dengan riwayat hipertensi

dr. I Dw Gd Teguh Krisna Murti, M.Biomed, Sp.PD

Hipertensi merupakan penyakit yang paling umum ditemukan dalam praktik dokter sehari-hari, dimana hipertensi juga merupakan faktor resiko dari beberapa penyakit seperti gagal jantung, stroke, gagal ginjal, sampai kematian.

Seseorang dikatakan menderita hipertensi jika didapatkan tekanan darah sistolik (TDS) > 140 mmHg dan/ atau tekanan darah diastolik (TDD) > 90 mmHg pada orang dewasa dengan sedikitnya tiga kali pengukuran secara berurutan. dalam keadaan istirahat, tanpa rasa cemas, tanpa disertai konsumsi kopi, alkohol, atau merokok. Disertai gejala tidak spesifik seperti nyeri kepala,pusing, dan rasa lelah.

Apabila sudah menderita hipertensi dan sudah mendapatkan terapi ataupun tidak memiliki riwayat hipertensi tapi takut menderita hipertensi, apa sebaiknya yang dilakukan untuk menjaga tekanan darah agar terkontrol dengan ataupun tanpa obat-obatan?

Apabila seseorang dengan berat badan berlebih sebaiknya melakukan olah raga rutin dua sampai tiga kali seminggu, selain menurunkan berat badan juga diharapkan aliran darah menjadi lancar dan menghindari terjadinya penumpukan kerak di pembuluh darah.

Juga disarankan saat mengkonsumsi makanan hindari yang mengandung pemanis berlebih atau yang asin, selain dapat mengontrol kadar gula darah juga dapat membantu ginjal agar tidak bekerja terlalu berat sebagai filter tubuh kita.

Lebih disarankan lagi untuk menghindari kopi, rokok, dan alkohol karena dapat menyebabkan berbagai organ tubuh mengalami penurunan fungsi akibat zat berbahaya yang terkandung didalamnya.

Terakhir dan terpenting adalah segera berkonsultasi dengan dokter terdekat jika memiliki riwayat keluarga yang hipertensi atau memiliki gejala-gejala hipertensi, karena apabila terlambat berkonsultasi bisa menimbulkan resiko komplikasi jangka panjang.